Rabu, 26 Juli 2017

Pernah Jadi Ibu? Pernah Nahan Pup?


      
Si Hafiz akhir-akhir ini merasa kehilangan bundanya ketika  tidak berada disampingnya. Baik itu ketika masak, setrika baju atau cuci piring. Hafiz sedang mau ditemani bunda, mungkin itu yang ada di benaknya. Ketika saya masak, Hafiz akan berada disamping saya bermain wajan, cobek dan piring. Ketika saya setrika baju Hafiz ada dibelakang saya bermain truck, karena kamar setrika jadi satu dengan kamar bermainnya. Sampai-sampai ketika saya “nyupir” aka nyuci piring, rok pun ditarik supaya menemani dia bermain. Jadi selama tidak ada ayahnya bunda seorang yang jadi teman main si Hafiz.
       
Balita 22 bulan ini pun lebih sering merengek dan menangis ketika keinginannya tidak terkabul. Contoh hendak ikut masuk kamar mandi ketika bundanya pipis. Padahal dari luar kamar mandi sudah diteriakin stop nak, licin, jangan kesini. Eh malah dianya makin mendekat sambil merengek. Wal hasil pipis sering tidak khusyuk.

Yap siang itu perut berasa mules. Merasa si Hafiz asyik dengan mainannya saya tinggal ke kamar mandi. Niatnya pipis karena mules lanjut pup. Sekali mengejan, lah kok si Hafiz sudah berdiri di depan kamar mandi. Akhirnya saya putuskan untuk menunggu ayahnya Hafiz pulang kantor nanti malam. Masa iya bawa anak ke wc pas pup :X

Hari berganti sore, rasa mulas melanda tak tertahan. Bergejolak dan berontak minta dikeluarkan. Didahului dengan rentetan bunyi dut dut sampai bret ebret ebret. Berbagai macam cara pengalih perhatiannya Hafiz saya lakukan. 

Langkah 1 : bukakan kaleng monde kesukaan. Harapan semoga dia lupa saya kemana. Setelah kaleng monde dibuka dan memilih jajanan yang disuka, si Hafiz tetap menggandengku untuk duduk disampingnya. Result failed. Duh gusti rentetan bunyi sudah makin sering semoga tidak sampe kecirit.


Langkah 2 : langkah pamungkas. Setelkan acara favoritnya the boss baby. Setelah acara dimulai Hafiz tampak berdiri mendekat ke arah tv. Hitungan sampai 10 kumulai, berharap tidak mencariku. Ok sepuluh dan dia asyik melihat layar TV warna-warni. Saatnya buang hajat yang tertunda. Alhamdulillah fabiayi ‘ala irobbikumu tukadziban. Lega dan plong. Terima kasih nak sudah menjadikan wanita ini seorang ibu/bunda. Jika tidak karenamu, bunda tak pernah merasakan rasanya nahan pup seharian dan leganya ketika berhasil melepasnya.



Share:

Sabtu, 22 Juli 2017

Harga yang didapat dari balon 10000

Seperti pagi pada umumnya, anak coleh sudah mandi dan sarapan, saya ajak dia menunggu “mlijo” di depan rumah. Tet tet tet tet suara klakson sepeda motor khasnya yang selalu dinanti setiap jam 07.30. yap si anak coleh alias Hafiz sudah bermain lari-larian didepan rumah. Dan saya pun berdiri mengawasinya sembari mengawasi jalan raya. Kami tinggal di perumahan baru yang bisa melihat ke jalan raya langsung karena rumahnya yang baru beberapa biji.

Firasat langsung berubah jadi tidak enak ketika ada tukang balon berkendara perlahan sembari melihatku. Waduh ciloko ini batinku, jangan sampai masuk perumahan atau berhenti didepan rumah. Buru-buru kubawa Hafiz masuk ke dalam rumah. Bukan bermaksud pelit membelikan mainan ke anak, hanya saja baru kemarin malam beli balon dan bermain dengan ayahnya. Apa harus beli lagi?

Dan apa yang menjadi kekhawatiranku terjadi. Bapak penjual balon berhenti pas didepan rumahku sambil membunyikan balonnya untuk menarik suara. Makin paniklah saya. Segera Hafiz saya ajak ke kamar mandi, kran air saya nyalakan, untuk meminimalisir suara yang mengundang perhatiannya. Tak disangka si bayi 22 bulan ini peka, tantrum dimulai, dari jeritan sampai tangis di gendongan pun pecah. Saya tetap bertahan dengan menggendongnya dan berharap bapak balon segera lewat.

Tak kuat mental, akhirnya saya bawa Hafiz ke luar kamar mandi. Oh apa yang terjadi? Ternyata bukan hanya Hafiz yang tertarik pada suara balon, tetangga-tetanggaku juga akhirnya keluar karena anak-anaknya merengek meminta balon. Akhrinya si Hafiz pun ikut beli balon 10000 berkarakter upin ipin.


Hafiz sedang asyik dengan balon upin ipin pilihannya. 

Rupanya Pak Mlijo yang ditunggu kedatangannya jam 07.30 telat, beliau baru datang jam 08.00. Setelah belanja saya berinisiatif membuat balon upin ipinnya Hafiz seperti layangan. Akhirnya saya sambung dengan benang jahit warna hitam.



Balon upin ipin disambung dengan benang jahit 

Tak disangka si Hafiz senang bukan main. Teriak terus terus, ayo naik layanganku, sambil mengejar layangannya yang berlari mengikuti arah angin. Dia sesenang itu karena setiap sore hanya bisa melihat anak-anak yang asyik layangan didepan rumah. Yap sejak seminggu menjelang lebaran depan rumah jadi arena main layangan, baik orang dewasa maupun anak-anak.


Layangan ala Hafiz

Nilai moral hari ini: Pak balon rejekimu hari ini luar biasa, daganganmu dibeli oleh orang –orang perumahan yang isinya 8 rumah dan mempunyai anak-anak balita. Dengan balon 10000  si Hafiz bisa belajar bagaimana menerbangkan layangannya sendiri :D



Share:

Cerita si Bunda Kupu-Kupu

Cerita si Bunda Kupu-Kupu

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

3 Cara Jitu Memperbaiki Hubungan dengan Pasangan

Duh, pernikahan baru seumur jagung saja sudah banyak ributnya.   Tidak ingatkah kita saat mengucap ijab qabul sampai menangis haru kar...