Seperti pagi pada umumnya, anak
coleh sudah mandi dan sarapan, saya ajak dia menunggu “mlijo” di depan rumah. Tet
tet tet tet suara klakson sepeda motor khasnya yang selalu dinanti setiap jam
07.30. yap si anak coleh alias Hafiz sudah bermain lari-larian didepan rumah. Dan
saya pun berdiri mengawasinya sembari mengawasi jalan raya. Kami tinggal di
perumahan baru yang bisa melihat ke jalan raya langsung karena rumahnya yang
baru beberapa biji.
Firasat langsung berubah jadi
tidak enak ketika ada tukang balon berkendara perlahan sembari melihatku. Waduh
ciloko ini batinku, jangan sampai masuk perumahan atau berhenti didepan rumah. Buru-buru
kubawa Hafiz masuk ke dalam rumah. Bukan bermaksud pelit membelikan mainan ke
anak, hanya saja baru kemarin malam beli balon dan bermain dengan ayahnya. Apa harus
beli lagi?
Dan apa yang menjadi
kekhawatiranku terjadi. Bapak penjual balon berhenti pas didepan rumahku sambil
membunyikan balonnya untuk menarik suara. Makin paniklah saya. Segera Hafiz
saya ajak ke kamar mandi, kran air saya nyalakan, untuk meminimalisir suara
yang mengundang perhatiannya. Tak disangka si bayi 22 bulan ini peka, tantrum
dimulai, dari jeritan sampai tangis di gendongan pun pecah. Saya tetap bertahan
dengan menggendongnya dan berharap bapak balon segera lewat.
Tak kuat mental, akhirnya saya
bawa Hafiz ke luar kamar mandi. Oh apa yang terjadi? Ternyata bukan hanya Hafiz
yang tertarik pada suara balon, tetangga-tetanggaku juga akhirnya keluar karena
anak-anaknya merengek meminta balon. Akhrinya si Hafiz pun ikut beli balon
10000 berkarakter upin ipin.
Hafiz sedang asyik dengan balon
upin ipin pilihannya.
Rupanya Pak Mlijo yang ditunggu
kedatangannya jam 07.30 telat, beliau baru datang jam 08.00. Setelah belanja
saya berinisiatif membuat balon upin ipinnya Hafiz seperti layangan. Akhirnya saya
sambung dengan benang jahit warna hitam.
Balon upin ipin disambung dengan
benang jahit
Tak disangka si Hafiz senang
bukan main. Teriak terus terus, ayo naik layanganku, sambil mengejar
layangannya yang berlari mengikuti arah angin. Dia sesenang itu karena setiap
sore hanya bisa melihat anak-anak yang asyik layangan didepan rumah. Yap sejak
seminggu menjelang lebaran depan rumah jadi arena main layangan, baik orang
dewasa maupun anak-anak.
Layangan ala Hafiz
Nilai moral hari ini: Pak balon
rejekimu hari ini luar biasa, daganganmu dibeli oleh orang –orang perumahan
yang isinya 8 rumah dan mempunyai anak-anak balita. Dengan balon 10000 si Hafiz bisa belajar bagaimana menerbangkan
layangannya sendiri :D









0 komentar:
Posting Komentar